Intinya Harus Irit

Selalu merasa gak enak hati kalau minta duit sama orang tua.

Sebenarnya kalau muka orang yang bersangkutan sumringah sih kita enak mintanya tapi kalau mukanya ditekuk, agak mikir dua kali mintanya, penuh pertimbangan. Si nyokap lagi pusing mengatur hasil jerih payah bokap (baca: gaji), bagaimana tidak begitu menerima pada saat itu juga nominal berkurang. Menurut pengakuannya, sebagian besar untuk membayar cicilan, arisan, dan sebagainya. Nyokap selalu sukses membuatku merasa serba salah dengan mempertontonkan muka melasnya itu. Maka dari itu, aku ingin merasakan mengatur pengeluaran, memaksimalkan biaya untuk bertahan sampai akhir bulan. Makan irit, hura-hura banyak (ciri-ciri anak kosan)

Tahun Ini Tahun Petualangan (masih berlanjut..semoga)

Eng...ing...enggg............
Perlahan tapi pasti semua angan-anganku terwujud,
Sungguh tahun ini adalah tahun petualanganku. Tahun ini tahun kelinci menurut tradisi masyarakat Tionghoa. Aku adalah penggemar fanatik hewan bertelinga panjang itu, menarik kesimpulan bahwa tahun ini adalah tahun keberuntunganku....hahhahhaaa......

Awal Januari diberikan liburan sebulan gratis oleh pak Tua ke Makassar. Pantai Losari, Taman Nasional Bantimurung, Benteng Fort Rotterdam, Makam Sultan Hasanuddin, Wahana permainan mirip dufan (dunia fantasi) namun dalam ruangan, Trans Studio, Taman Bunga Malino, Pantai Bira (Bulukumba). Ada Bendungan di Makassar yang sangat menarik perhatianku namanya Bendungan Bili-Bili, menarik karena ucapan sepupuku, "Jika orang Jawa takut gunung Merapi meletus maka kami (orang Makassar) takut jika Bili-Bili jebol. Seluruh Makassar akan tenggelam." Bendungan ini terletak di dataran tinggi. Tempat wisata yang selama ini hanya dapat kulihat di majalah atau televisi, sudah kusambangi.

Akhir Februari, aku dan ketiga teman SMAku menjejakkan kaki di kota Gudeg. Sebenarnya ini kunjunganku yang kedua kalinya ke Jogjakarta. Kami berempat mengunjungi Malioboro (tentunya), Keraton, Alun-alun, Taman Sari, pantai Parangtritis. Kami juga dua kali mencicipi menu yang disajikan di House Of Raminten di Kotabaru. Tempat makan yang asik, dari segi interior, ada musik pengiring dan keunikan para pelayannya, harga pun terjangkau.

Tanggal 8 sampai 10 April, aku berhasil berdiri di puncak Gunung Gede (2.958 m.dpl),
berkemah di Surya Kencana yang cantik beserta Edelweisnya yang merekah saat kami datang. Sungguh terharu jika memikirkannya, kesabaran dan anganku yang terus membara membayangkan kapan aku bisa merasakan, berada di semua tempat yang ingin kusambangi. Puji Tuhan Alleluya!

Lalu, hari ini rahmatNya melimpahiku lagi. Hari ini aku mencoba panjat di GOR Bulungan. Wawwwwwwwwwww........... selain ini karena anugerahNya, mau tak mau pun aku harus menyetujui kata-kata Rhonda Byrne dalam bukunya, The Secret mengenai Hukum tarik-menarik (Law of Attraction) di mana angan yang terus-menerus kita pikir dan ucapkan akan menjadi kenyataan.

Masih banyak rencana pelanconganku sampai Juli nanti yaitu mendaki Mahameru, jadi orang paling tinggi di pulau Jawa...hahaha. Saya tidak sabar menantinya.
Terima kasih Tuhan atas berkatMu ini.

Mungkin Tanda Tanya


"Andai aku memiliki Keberanian untuk mengungkapkan"


Kurang bersyukurkah aku ?

Sampai saat inipun bingung, bagaimana bersyukur yang benar itu. Ahhhh, semua penuh tanda tanya, buat otakku sakit. Aku merasa selalu tertinggal dari orang lain. Terkutuklah aku ayah, ibu karena masalah ke'lamban'anku ini berasal dari kalian. Huuu..huuu... dalam diam aku telah durhaka terhadap kalian. Enyahkan tulisan Rhonda Byrne didalam The Secret yang selalu mendengungkan Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik di mana impian seseorang akan terwujud apabila ia memikirkan angannya secara simultan dan menyampaikannya pada orang-orang disekitar. Aku (saat ini) memilih bungkam.


Seorang Pendramatisirkah aku ?

Aku kecanduan buku, otakku bergetar hebat apabila sehari saja tidak meraba tubuhnya. Kata per kata membentuk kalimat kemudian paragraf menggairahkan jiwaku. Dari semua sumber selalu berpendapat tetang Buku, beraneka ragam pandangan semuanya benar dan juga (bisa) dibenarkan. Intinya sama. Kini, itu semua rasanya ingin kucampakkan saja, tak menarik lagi.
Semua menolak apabila ada yang ingin mengajaknya ke Psikiater, Ahli Kejiwaan dan profesi sejenisnya. Psikiater dikaitkan dengan Gila, Sarap, Sinting dan mereka tidak mau mendapat 'gelar keramat' tersebut. Sering mengeluh, pikiran kadang kosong, tak tahu harus berbuat apa mungkin (mungkin ya, mungkin) mirip gejalanya dengan si terdahulu. Mengapa harus menyangkal, pasien sakit jiwapun menyangkal dirinya disebut Gila.

Lalu, untuk apa semua ini ?

"Menghadapi hidup yang penuh tanda tanya."
"Nobody knows the trouble i've seen, nobody knows my sorrow."
Mungkin tulisan ini berbau Pesimis, terkuaklah jati diri penulisnya. Sahabatku yang bernama Optimis, tolong jangan jauhi kami ! Kami sangat mendambakan cipratan jiwa semangat anda.





powered by Blogger WordPress by X file