: Jadikan Kaca Sebagai Gaya Hidup

Para Narasumber (ki-ka): Jonathan (Suwe Ora Jamu), Edwin Pranata (Realfood), Karin van Lieshout (Ffrash), Noer Wellington (OI) (dok.pribadi)


Kampanye untuk mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam pasti sudah santer Anda dengar gaungnya. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda untuk menjadikan media Kaca sebagai pengganti penggunaan plastik dan styrofoam? 

Selasa, 9 Juni 2015 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti Glass Is Life Blogger Gathering di WIMO building, Kemang sebagai perwakilan dari Blogger Reporter Indonesia (BRId). Saya tertarik karena membaca deskripsi pada poster undangan yang dipublikasikan oleh mas Ahmed. Acara diawali dengan coffee break dan barbeque. Kemudian MC (Aldi dan Tessa) memanggil para blogger untuk menempati kursi yang sudah disiapkan. Narasumber pertama adalah Manager Marketing PT Owen Illinois (OI), Noer Wellington atau dipanggil Welli. Pak Welli menjabarkan sejarah singkat PT OI dan memperkenalkan sosok Michael J. Owens sebagai penemu mesin pembuat botol kaca sekitar tahun 1900. "Gelas itu tidak membahayakan juga tidak mempengaruhi keaslian rasa makanan atau minuman yang dikemasnya," ujar Welli.

(dok.pribadi)
(dok.pribadi)


Narasumber kedua adalah Karin van Lieshout, seorang wanita berkebangsaan Belanda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak jalanan di Indonesia. Karin yang merupakan seorang desainer yang mencetuskan sebuah brand bernama "Ffrash" yang merupakan kombinasi dari kata "trash" dan "fresh", motto Ffrash ini terbilang unik, yaitu "Then trash became Ffrash". Karin dan dua temannya, Guido Ooms dan Celine van Raamt menggerakan anak-anak jalanan (dari pemahaman penulis di daerah Pelabuhan Sunda Kelapa) berkreasi memanfaatkan botol bekas menjadi jam dinding, vas untuk tanamanpun didesain unik. Selain menularkan kreativitas bagi anak-anak tersebut, Karin juga mengajarkan keterampilan lain kepada anak-anak diantaranya, pelatihan bahasa Inggris, pembekalan ilmu pemasaran dan keuangan demi memupuk rasa percaya diri dalam diri anak-anak jalanan tersebut.
(dok.pribadi)
Karya Ffrash (dok.pribadi)

"Statistik menunjukkan 62% wanita di Indonesia akan membeli produk ramah lingkungan meskipun harus ekstra merogoh kocek lebih dalam." Papar CEO Realfood, Edwin Pranata. Edwin berkeinginan memperkenalkan produk lokal ke kancah internasional. Untuk memenuhi standar penyajian yang baik, kaca dianggap Edwin memenuhi kriteria tersebut. Edwin memilih kaca untuk kemasan produk yang diproduksinya karena berawal dari keprihatinan akan tingginya penggunaan plastik kemasan di Indonesia. "Di luar negeri (Australia), masyarakatnya lebih memilih kemasan kaca daripada plastik. Selama ini pola pikir anak muda adalah kaca itu berat, susah dibawa, padahal keuntungan penggunaan kaca adalah ramah lingkungan." Ujar Edwin

dok.pribadi

Narasumber terakhir adalah sosok sukses yang berhasil mengembangkan produk lokal pula yaitu Jamu, adalah Jonathan si inspirator dibalik suksesnya brand Suwe Ora Jamu (SOJ). 

dok.pribadi

Jonathan menargetkan idealismenya yaitu membumikan penggunaan kaca terhadap anak muda. Suwe Ora Jamu sendiri memiliki kampanye memberikan uang Rp 2.500,- bagi konsumen SOJ yang mengembalikan botol kemasan SOJ. Tetapi belakangan botol kemasan SOJ sedikit yang kembali karena konsumen lebih memilih mengoleksinya. "Saya senang Jamu, saya yakin apa yang saya lakukan (penggunaan kaca) akan menular juga ke orang lain, khususnya anak muda." tutup Jonathan.

Selain pemaparan materi tentang penggunaan kaca dari para narasumber, ada pula pembagian doorprize dan hadiah utama liburan ke Bali. (ste)

Tulislah (dalam Bahasa) Indonesia!

Entah kenapa tekad gw sudah bulat setelah wisuda nanti gw ingin total di dunia yang menggairahkan gw: Pariwisata dan Kebudayaan. Maka dari itu gw ingin sekali masuk dalam tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI), bukannya gw berambisi ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), gw cuma mau menjadi 'anak bawang' yang gentayangan cerdas di Kemenparekraf, memajukan pariwisata Indonesia yang menurut gw belum 'menjual', masih terasing di negara sendiri. Berawal dari kegondokan gw, kenapa ke luar negeri lebih murah dibandingkan ke Kalimantan atau Papua.


Iseng gw pun membuka situs http://indonesia.travel/ dan apa yang gw lihat. Semua tulisan di situs ini bertaburkan bahasa Inggris. Gw sih emang gak kolot-kolot amat mengharamkan bahasa lain. Tapi ya mbok jangan melupakan bahasa ibu sendiri. 

Situs Pariwisata Indonesia yang berbahasa Asing. Apa opinimu, kawan?
Entahlah mungkin saja standar gw yang ketinggian dalam menyikapi sesuatu. Cuma gw merasa dari hal remeh saja seperti situs pariwisata, seperti di'anak tiri'kan, tak terurus. Bukti otentik lain yang gw temukan:

Copyright masih tahun 2013 padahal sekarang 2014

Yang jelas gw punya mimpi mulai untuk membangun bangsa ini, dan gw memilih bagian Pariwisata sesuai dengan kemampuan dan minat gw. Bukannya gw mau senang-senang semata jalan-jalan, menghabiskan dana. Kecerian jalan-jalan adalah 'bonus' yang gw dapatkan. Bagi gw adalah 'harta tersembunyi' lain dibalik sebuah penjelajahan. Gw mau mengekspos yang memang seharusnya diekspos. Demi apa? Ya, jelas demi kemajuan bangsa ini. Ini juga termasuk dalam perjalanan gw menuju Strata 2 Antropologi. Gw mau mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk S2 gw nanti. Semoga yang Esa merestui :) Ada ungkapan 'gak cukup seumur hidup untuk keliling Indonesia', maka dari itu gw gak tau umur gw sampai berapa. Seenggaknya gw mau memulai dari sekarang kenali Negeri gemah ripah loh jinawi ini, karena gw geram kok kita melarat di Negeri yang subur nan permai ini. Apakah para awak media yang terlalu lebay mengekspos kemiskinan Indonesia atau memang begitu adanya. Terlalu banyak 'rahasia' yang penasaran ingin gw ungkap. Dengan semangat, positif, dan niat baik, gw yakin Tuhan pasti bersama orang-orang nekat Pemberani..hahhahhaa. 

Saya Cinta (Bahasa) Indonesia


ICE AGE? Oh So Cool! BRRRRR

Judul di atas mengutip password bikinan si mojang jenaka Fitri Tropica yang didapuk jadi Master Ceremony (MC) di acara Grand Launching ICE AGE: Sid's Arctic Tours di Premium Lounge Dunia Fantasi (Dufan) Jaya Ancol, Kamis, 10 April 2014 kemarin. Beruntungnya penulis bisa menjadi salah satu undangan dari Blogger Reporter ID. Dufan tahun ini meluncurkan lagi wahana baru ICE AGE yang terinspirasi dari film dengan judul yang sama dari rumah produksi Pamansam, 20th Century Fox. 


Sumber: Google Images


Film Ice Age berkisah tentang persahabatan Sid, seorang Kukang Tanah, Manny si mammoth, dan Diego si Smilodon di zaman es. Sejak tayang perdana tahun 2002 silam, film ini masih diminati oleh pecinta film animasi. Sekarang Ice Age sudah mencapai sekuel ke-4 dan rencananya sekuel ke-5 akan rilis 15 Juli 2016 (sumber: http://www.21cineplex.com/slowmotion/ice-age-5-siap-tayang-pada-tanggal-15-juli-2016,4442.htm). 

"Setiap tahun, Dufan pasti meluncurkan wahana baru. Dengan diluncurkannya wahana Ice Age ini Dufan ingin menggalang kepedulian masyarakat akan perubahan iklim dan akibat apa saja yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini es kutub mencair." imbuh Direktur Pemasaran PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk, Winarto.

Winarto menambahkan investasi biaya pembangunan Ice Age ini senilai 200M. Wahana ini mampu menampung 750 orang per jam dengan panjang lintasan 365 m dan ditempuh selama 8 menit. Wahana ini aman untuk keluarga, karena manajemen Dufan selalu mengutamakan keselamatan pengunjung dan berstandar Internasional. 


"Ice Age dibangun untuk mengajak pengunjung menikmati sensasi bertualang dalam air tanpa harus basah." kata Vice President White Water Branson, Harley Bostock.

Senada dengan yang disampaikan Winarto dan Harley, Dewan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk, Katarina menyampaikan dengan adanya wahana Ice Age ini diharapkan jadi 'pancingan' agar masyarakat mau menikmati wahana ini dan cita-cita awal manajemen Dufan terhadap pembangunan wahana ini tercapai.

Hadir juga sebagai pembicara, seorang Youtube-ers, Kisti yang dipilih manajemen Dufan karena video dokumenternya tentang Dufan dianggap mewakili gambaran suasana Dufan. "Dufan, kepanjangan dari Do Fun adalah tempat yang asik, cocok untuk rekreasi. Wahana favorit saya yaitu Histeria, Roller Coaster, dan Kincir-kincir. Dalam seminggu saya bisa 2 sampai 3 kali ke sini (Dufan)," aku Kisti.

Fitri Tropica juga tak mau kalah menambahkan, "Belum ke Jakarta kalau belum ke Dufan."

FYI, Ice Age yang di Dufan ini adalah yang kedua di dunia dan pertama di Asia. "Mengutip dari testimoni pihak 20th Century Fox, wahana ini (Ice Age) lebih baik dari yang di Jerman. Bahkan, Malaysia beberapa waktu yang lalu hadir kesini untuk mempelajari wahana ini dan berniat mebangunnya disana juga." papar Winarto.

Winarto juga mengungkapkan bahwa PT Pembangunan Jaya Ancol juga tengah menyiapkan Dufan kedua yang disebut Dufan Ocean yang nantinya terletak di pinggir pantai. "Kami mengajak para produser film, sutradara, penulis untuk menghadirkan wahana "Letusan KRAKATAU". Rencananya akan rampung tahun 2017." tambah Winarto.

"Lalu bagaimana dengan warga Jakarta yang tidak sanggup membeli tiket Dufan (Rp 250.000)?" tanya reporter Jak Tv

Winarto menjelaskan bahwa saat ini ada HTM (Harga Tiket Masuk) Annual sebesar Rp 260.000 yang bisa dipakai selama setahun. Masyarakat yang kurang mampu bisa mencicilnya. "Kami tidak ingin biaya menjadi halangan pengunjung untuk mengurangi penatnya keseharian. Kami ingin Dufan menjadi tempat 'pelarian' penduduk dari kepenatan rutinitas." papar Winarto

Dufan beroperasi selama 8 jam, dan berkomitmen tetap melayani pengunjung hingga pengunjung terakhir menikmati wahana meskipun itu melewati jam pelayanan operasional. Saat ini di Dufan, ada 27 wahana untuk menampung 45.000 pengunjung dalam sehari. Kabar baiknya, meskipun ada wahana baru Ice Age ini, HTM tetap.

Selesai konferensi pers, seluruh undangan disuguhkan makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan wahana oleh Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Gatot Setyo Waluyo. Setelah dihibur dengan parade, flash mob dan marching band Ancol, satu persatu pengunjung memasuki wahana. 

Singkatnya dari pengalaman yang dialami penulis terkait wahana Ice Age, wahana ini perpaduan dari Istana Boneka dan Niagara namun dalam ruangan (in door). Sejak awal dibilang bahwa wahana ini akan menjamin pengunjung merasa kedinginan (sensasi beku), pernyataan ini memang benar adanya, karena pengunjung diguyur oleh air yang mengucur dari salah satu diorama kemudian sensasi dingin ini ditambah dengan suhu dalam wahana yang mungkin bersuhu belasan derajat celcius (namanya juga wahana baru, AC nya masih perawan...hehehe). Untuk lebih lengkapnya, lebih baik kalian (yang belum) datangi langsung wahananya :D

Sumber: Google Images


Setelah basah-basahan, selanjutnya penulis menikmati wahana lanjutan dari Ice Age, wahana ini berbentuk perahu dan kemudian bergoyang-goyang ke segala arah 360 derajat, seakan perahu kita dihantam badai ombak.

Sumber: Google Images


Puas teriak-teriak saking senangnya (kebetulan sudah lama tidak ke Dufan..hehe), setelah berfoto-foto dengan teman-teman Blogger Reporter ID, Pak Amril, bang Ahmed, pak Dian, mbak Andini, bang Aswi, dan lainnya. Ada yang pulang, ada yang juga melanjutkan petualangan di negeri fantasi.

"Mumpung undangan khusus (cap Premium Fast Track), tinggal nikmatin wahana tanpa harus antri, kapan lagi ya kan..hehehe," pekik girang Andini Harsono, salah satu Blogger Reporter ID

Sumber: Alfan Renata pict



powered by Blogger WordPress by X file