Gie, Dengarkanlah

Gie, aku lelah sama sepertimu saat lelah melihat Pemerintahan yang tak menarik lagi.
Gie, kasus '98, Pembunuhan Munir belum terungkap dan sekarang kehilangan Sondang.
Gie, generasi sekarang katanya "manja", kami tak sekritis dulu lagi. Kami malas-malasan, tak mau usaha.
Gie, sampai saat ini aku masih juga belum menghasilkan karya. Waktuku terbuang percuma, tulisan tak satupun dilahirkan.
Gie, hasil jepretanku mengecewakan. Foto bidikanku belum menggugah perasaan.
Gie, aku kehilangan "dia". Sahabat alam sepertimu.
Gie, aku belum melebur dalam masyarakat. Aku belum pantas dikata mahasiswa, aku belum menegakkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Gie, aku ingin ke Pangrango lagi. Aku belum melihat sosokmu disana. Kemarin aku memanggilmu disana, namun kau tak tampak dan seusai turun dari sana aku kehilangan baju bergambar dirimu. (masih kucari)
Gie, mengapa aku hanya bisa mengenangmu. Mengenalmu melalui opini orang lain dan tulisanmu. Aku ingin kau nyata.
Gie, sampai detik ini penggemarmu masih memujamu. (hanya memuja, semoga mengikuti idealismu)
Gie, sekarang aku 22 tahun. Apakah nasibku akan juga berakhir di usia "misterius", 27 ? (berbahagialah mereka yang mati muda)
Gie, semoga aku lebih berani diusia ini dan percaya diri, tak menyerah pada kemunafikan dan percaya bahwa Dunia ini hanyalah Palsu.
Gie, aku ingin punya kekasih sepertimu.

Gie, Selamat Ulang Tahun


Berawal Dari 22

Selamat Ulang Tahun, Stella Chrisfanny :)


Berkurang masaku didunia tepat hari ini. Namun bukan sedih yang dirasa melainkan sukacita. Ucapan dari orang terdekat membuat hati kembang-kempis. Iringan harapan, cita-cita, impian mengalir dalam doa. Senang rasanya jadi "pusat perhatian" sehari. Tokoh wanita yang dimaksud Miles dalam buku The Highest Tide mempengaruhiku bahwa dia mengikuti lentera jiwanya tepat pada umur 22.
Normalnya, diusiaku saat ini sudah wisuda dan bekerja namun aku terlambat masuk kuliah dan kini masih semester 5. Tak akan kusesali karena memang harus begini jalannya, yakin ada hikmah dibalik ini semua. Sepertinya aku masih gamang sampai saat ini, saatnya aku menentukan langkah, tak perlu gentar asal itu positif dan buka mata hati dan telinga untuk menangkap segala maksudNya.
Kita hidup hanya sekali, menikah sekali dan mati sekali. Waktu adalah misteri jadi untuk apa hidup ditahan-tahan. Jelajah dunia sejauh-jauhnya, timba ilmu sebanyak-banyaknya, pacaran sebanyak-banyaknya..hahahaha. Iya nih kenapa di ulang tahun yang ke-22 ini, fokus utamaku secara tidak sengaja mengarah pada hubungan ASMARA. Kata orang aku tidak jelek dan bodoh, banyak juga yang bertanya mengapa sampai saat ini belum juga punya 'gandengan', betah 'menyepi'. Padahal kan memadu kasih itu INDAH. Ciptaan Tuhan yang harus dikagumi dan disayangi. Tuhan, semoga kau beri jalan..hehehe #kedip

Akibat terobsesi buku tersebut, aku katakan:
" SEMUA BERAWAL DARI 22"

Teriakan Jengah

Kepala terasa penat!


Selama ini aku merasa hanya pikiranku yang bekerja sedangkan perasaan mati suri. Timpang. Benarkah seperti itu? Ini hanya diagnosaku saja. Mungkin aku yang kurang bersyukur, kurang menikmati keadaanku yang sekarang. Namun, syukur tak hanya sekedar kata-kata yang diucapkan berulang seperti jampi. Rasa harus diasah, pertanyaannya bagaimana caranya?
Tekanan demi tekanan menghujam yang sepertinya saya ciptakan sendiri, lelah dengan semua 'suara-suara' itu.
Saya butuh seseorang yang bisa menegur saya, membawa saya keluar seharian dari matahari terbit hingga terbenam. Habiskan waktu dengan segala laku yang akan s'lalu diingat.

Berhentilah merasa kuat!

Sekalipun dunia membencimu, jangan takut dan tetaplah berbuat baik. Demi apapun, berilah aku kekuatan untuk memaknai tiap kata-kata suci itu. Saat aku lemah, aku ingin dikuatkan. Terlalu banyak huruf, kata hingga kalimat mengelilingi. Mereka terlalu lama bergelayutan di pohon pikiran dan tak kunjung kupetik hingga membusuk di tangkainya, menyedihkan. Aku tak butuh kata tapi aku butuh sesuatu yang NYATA. Maafkan aku para Bijakwan dan bijakwati, kata-kata emas kalian seperti angin lalu bagiku (saat ini).

Jadilah !
Bukalah hatimu, temanku pernah berkata. Buka hati? Rasa takut menghardik duluan.
Aku ingin fokus pada satu saja seperti saat tenggelam, yang dipikirkan adalah bagaimana caranya timbul ke permukaan dan menghirup oksigen untuk mengisi paru-paru menjadi motivasi terbesar. Cukup satu-satu. Imbang. Masih membara untuk hidup berkarya kemudian dipersembahkan kepada orang lain. Terima kasih, Tuhan anggota tubuhku lengkap dan berfungsi namun izinkanlah aku 'membutakan' mata, 'menulikan telinga'ku dari segala yang tak perlu, yang dirasa berpeluang menghalangi niatku.

Jadilah padaku sesuai kehendakMu. Aku datang, Tuhan, dengan hati letih, lesu dan berbeban berat. Mohon kemurahan hatiMu, sambutlah aku. Aku bukan apapun tanpaMu.

powered by Blogger WordPress by X file