Teriakan Jengah
Kepala terasa penat!
Selama ini aku merasa hanya pikiranku yang bekerja sedangkan perasaan mati suri. Timpang. Benarkah seperti itu? Ini hanya diagnosaku saja. Mungkin aku yang kurang bersyukur, kurang menikmati keadaanku yang sekarang. Namun, syukur tak hanya sekedar kata-kata yang diucapkan berulang seperti jampi. Rasa harus diasah, pertanyaannya bagaimana caranya?
Tekanan demi tekanan menghujam yang sepertinya saya ciptakan sendiri, lelah dengan semua 'suara-suara' itu.
Saya butuh seseorang yang bisa menegur saya, membawa saya keluar seharian dari matahari terbit hingga terbenam. Habiskan waktu dengan segala laku yang akan s'lalu diingat.
Berhentilah merasa kuat!
Sekalipun dunia membencimu, jangan takut dan tetaplah berbuat baik. Demi apapun, berilah aku kekuatan untuk memaknai tiap kata-kata suci itu. Saat aku lemah, aku ingin dikuatkan. Terlalu banyak huruf, kata hingga kalimat mengelilingi. Mereka terlalu lama bergelayutan di pohon pikiran dan tak kunjung kupetik hingga membusuk di tangkainya, menyedihkan. Aku tak butuh kata tapi aku butuh sesuatu yang NYATA. Maafkan aku para Bijakwan dan bijakwati, kata-kata emas kalian seperti angin lalu bagiku (saat ini).
Jadilah !
Bukalah hatimu, temanku pernah berkata. Buka hati? Rasa takut menghardik duluan.
Aku ingin fokus pada satu saja seperti saat tenggelam, yang dipikirkan adalah bagaimana caranya timbul ke permukaan dan menghirup oksigen untuk mengisi paru-paru menjadi motivasi terbesar. Cukup satu-satu. Imbang. Masih membara untuk hidup berkarya kemudian dipersembahkan kepada orang lain. Terima kasih, Tuhan anggota tubuhku lengkap dan berfungsi namun izinkanlah aku 'membutakan' mata, 'menulikan telinga'ku dari segala yang tak perlu, yang dirasa berpeluang menghalangi niatku.
Jadilah padaku sesuai kehendakMu. Aku datang, Tuhan, dengan hati letih, lesu dan berbeban berat. Mohon kemurahan hatiMu, sambutlah aku. Aku bukan apapun tanpaMu.

08.29
Stella Chrisfanny
,

0 Response to "Teriakan Jengah"
Posting Komentar