Kesana Kemari Mencari Yang Kucari

Hunting kali ini aku lakukan sendiri, ternyata benar lebih efektif kala kita sendirian (kebetulan aku juga gadis soliter..hihihi)

Kemarin aku memilih lokasi Kalibaru, perkampungan nelayan untuk kujadikan obyek pemotretan. Daerah itu padat penduduk, masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya dengan menjadi buruh pengupas kerang. Tua, muda tumpah ruah, sibuk mengambil daging kerang untuk dikumpulkan dan ditimbang, untuk perkilonya dihargai Rp 3.000. Nelayan tak tentu mengambil kerang ke tengah laut.
Hmmm...
masyarakat pinggir laut yang dinamis.
Aku masih merasa kurang mendapatkan informasi dan aku berjanji untuk datang kembali kesana, orang yang jauh dari Kalibaru saja rela datang kesana hanya untuk mengumpulkan berita sedangkan aku yang dekat malah seperti acuh dengan sekelilingku. Mahasiswa Jurnalistik yang payah, kadang aku menyebut diriku seperti itu.

Hari kedua ini aku melakukan perburuan obyek ke Pasar Baru, tentu anda tahu pelukis jalanan yang mangkal di trotoar, seberang Gedung Kesenian Jakarta. Biasanya aku hanya bisa memandangi sepanjang trotoar ini lewat kaca bus P 125 (Tg. Priok-Blok M) dalam perjalanan kerja. Memang benar ungkapan Samuel Mulia, "semua terjadi seperti apa yang diyakini".
Ungkapan tersebut diperkuat kembali dengan berhasilnya aku menggengam tiket nonton Antigoneo, Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Gedung yang sangat kubanggakan karena aku pernah berdiri unjuk kebolehanku dan teman-teman SD menyanyi disana. Akhirnya setelah hampir 12 tahun tak bersua, Rabu nanti (12/10) jika tak ada aral merintang aku akan menjejakkan kaki kembali di gedung bersejarah itu.

Terima kasih, Tuhan untuk hari ini :) ini semua berkat karunia-Mu

Tak Hanya Melulu Tentang Uang

Hari ini ngamen lagi di Lapo Senayan.

Lumayan ada yang ngasih 100ribu. Nyanyi sampe suara serak, saking mau ngalahin penyanyi Batak yang pakai alat pengeras suara. Awalnya, sepi tidak ada yang memberi tetapi setelah kita menyanyikan lagu-lagu dari Puji Syukur penuh semangat, rupiah perlahan-lahan mulai memenuhi kardus. Ada yang pernah bilang bahwa menyanyi adalah dua kali lipat dari DOA, makdarit kami menyanyi dengan kesungguhan hati tanpa memperhitungkan lagi apakah ada yang memberi atau tidak yang pasti kami "bernyanyi". Termenung, kuberkata dalam hati, "begini ya rasanya jika kita meminta tapi tak ada yang memberi, diacuhkan." Lalu, aku membandingkan saat posisiku menjadi orang yang diminta, begitu melihat pengamen jelas aku ingin ia menyanyikan dengan semangat.
Selama ini aku menemukan para pengamen banyak tipe, ada yang asal nyanyi, menyanyi membelakangi penumpang, suara dibuat berlebihan, padahal menurutku biarpun suaranya datar asal ia menyanyikan dengan penuh sukacita, dengan sendirinya melodi-melodi itu akan menembus dinding manusiawi setiap orang.
Bukannya melulu mengharap imbalan namun apabila segala yang kita kerjakan dengan tuntas dan melampaui dari prosedurnya, niscaya segala yang kita minta itu semua akan ditambahkan.
Mari, bernyanyi dengan sukacita :)

Insiden Warteg Biru (lagi)

Masa iya kejadian yang sama terulang kembali...ckckkck.

Sesak nafas bila kuingat-ingat lagi kejadian kemarin dan setahun silam.
Kenapa harus bersama orang yang hampir (hobi, wajah, tabiat) serupa. Ya Tuhan, inikah yang namanya hukum tarik-menarik. Jika memang menurutmu ini tidak benar mengapa aku harus mengalaminya untuk kedua kalinya kalaupun (mungkin) akhirnya 'kan berujung sama. Kata mereka aku tak mau buka hati dengan 'sesama'. Tunjukkan padaku bagaimana cara untuk mampu melihat 'sesama'. Dengan cara yang hampir sama, aku, dia dan dia (yang lain) seperti memasuki Warteg Biru bersama. Bisa gila bila lama-lama aku memikirkannya, yang ada aku hanya tersenyum geli. Dia yang pertama mencintai ketinggian dan dia yang baru mencintai kedalaman. Dan aku terjebak dalam ketinggian dan kedalaman. Aku sendiri yang menciptakannya.
Katakanlah aku bodoh!
Aneh, hanya itu yang bisa kukatakan.
Yang jelas sahabatku melarang aku untuk tak terjebak lagi dalam kemelut ini. Ia berkata aku harus TEGAS, harus punya PRINSIP, TEGASkan hatimu.

Sudahlah, sayang

Sudahlah, sayang...

relakan, ikhlaskan, meski tak sanggup tapi kau harus tega. Ini demi kebaikanmu sendiri, siapa suruh kau terlanjur sayang padanya?

Saat ini pikiranku buntu, kata-kata positif tak mempan dinalarku. Cinta, hal yang sulit kumengerti. Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya hanya kepahitan yang diterima.
Hari ini aku puas menumpahkan segala gejolak yang dihati akibat mencintaimu kepada temanku. Sakit rasanya mengenang kembali masa-masa indah dulu. Senyum jenaka terhapus mendung air mata. Ternyata, akhirnya pedih. Bisakah kau sedikit saja mengerti perasaanku? Cinta dan sayang tak perlu kau ragukan, ketulusan kudapat. Menjadi kekasihmu adalah suatu hal yang teramat mewah bagiku, bagiku kau sulit kuraih. Yang kubutuhkan hanya kejelasan darimu. Jika cinta katakan cinta jika tidak, katakan dengan lantang kau tak cinta. Tak perlu gentar, kau kan lelaki. Seharusnya dari awal tak perlu kau biarkan kelopak cinta ini merekah, biarkan saja membusuk seperti sediakala.

(sekali lagi ku katakan, nalarku sedang menyangkal optimis)

Kau salah apabila kau pikir aku kuat dan rela menghadapi semua ini, aku masih 'terluka' akan sikap plin-planmu. Kadang aku ingin mengambil belati dan membunuhmu (dalam mimpi).

Terberkatilah, Oktober!

Selamat hari Kebangkitan Nasional :)

Hari ini tidak ingin bercerita tentang sejarah kebangkitan nasional dan sekitarnya, hanya ingin mengucapkan..hehe

Dalam 1 jam kedepan, aku akan mengikuti misa pembukaan bulan Rosario. Awal yang penuh berkat, semoga selama 1 bulan ini, untaian-untaian biji Rosario bersama doa yang didaraskan terselip permohonan untuk negeri tercinta ini.
Entah mengapa hari ini aku menyukai detik-detik penantian Lonceng gereja berdentang. Mungkin karena minggu lalu aku absen dariNya, hehe.
Masa bodoh dengan segala perdebatan mengenai keberadaanNya, yang pasti saat aku gundah, datang kepadaNya, berbincang-bincang adalah hal yang melegakan hatiku. Ia adalah Penyembuh terbaik, tiada duanya.

powered by Blogger WordPress by X file