Gie, Dengarkanlah

Gie, aku lelah sama sepertimu saat lelah melihat Pemerintahan yang tak menarik lagi.
Gie, kasus '98, Pembunuhan Munir belum terungkap dan sekarang kehilangan Sondang.
Gie, generasi sekarang katanya "manja", kami tak sekritis dulu lagi. Kami malas-malasan, tak mau usaha.
Gie, sampai saat ini aku masih juga belum menghasilkan karya. Waktuku terbuang percuma, tulisan tak satupun dilahirkan.
Gie, hasil jepretanku mengecewakan. Foto bidikanku belum menggugah perasaan.
Gie, aku kehilangan "dia". Sahabat alam sepertimu.
Gie, aku belum melebur dalam masyarakat. Aku belum pantas dikata mahasiswa, aku belum menegakkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Gie, aku ingin ke Pangrango lagi. Aku belum melihat sosokmu disana. Kemarin aku memanggilmu disana, namun kau tak tampak dan seusai turun dari sana aku kehilangan baju bergambar dirimu. (masih kucari)
Gie, mengapa aku hanya bisa mengenangmu. Mengenalmu melalui opini orang lain dan tulisanmu. Aku ingin kau nyata.
Gie, sampai detik ini penggemarmu masih memujamu. (hanya memuja, semoga mengikuti idealismu)
Gie, sekarang aku 22 tahun. Apakah nasibku akan juga berakhir di usia "misterius", 27 ? (berbahagialah mereka yang mati muda)
Gie, semoga aku lebih berani diusia ini dan percaya diri, tak menyerah pada kemunafikan dan percaya bahwa Dunia ini hanyalah Palsu.
Gie, aku ingin punya kekasih sepertimu.

Gie, Selamat Ulang Tahun


Berawal Dari 22

Selamat Ulang Tahun, Stella Chrisfanny :)


Berkurang masaku didunia tepat hari ini. Namun bukan sedih yang dirasa melainkan sukacita. Ucapan dari orang terdekat membuat hati kembang-kempis. Iringan harapan, cita-cita, impian mengalir dalam doa. Senang rasanya jadi "pusat perhatian" sehari. Tokoh wanita yang dimaksud Miles dalam buku The Highest Tide mempengaruhiku bahwa dia mengikuti lentera jiwanya tepat pada umur 22.
Normalnya, diusiaku saat ini sudah wisuda dan bekerja namun aku terlambat masuk kuliah dan kini masih semester 5. Tak akan kusesali karena memang harus begini jalannya, yakin ada hikmah dibalik ini semua. Sepertinya aku masih gamang sampai saat ini, saatnya aku menentukan langkah, tak perlu gentar asal itu positif dan buka mata hati dan telinga untuk menangkap segala maksudNya.
Kita hidup hanya sekali, menikah sekali dan mati sekali. Waktu adalah misteri jadi untuk apa hidup ditahan-tahan. Jelajah dunia sejauh-jauhnya, timba ilmu sebanyak-banyaknya, pacaran sebanyak-banyaknya..hahahaha. Iya nih kenapa di ulang tahun yang ke-22 ini, fokus utamaku secara tidak sengaja mengarah pada hubungan ASMARA. Kata orang aku tidak jelek dan bodoh, banyak juga yang bertanya mengapa sampai saat ini belum juga punya 'gandengan', betah 'menyepi'. Padahal kan memadu kasih itu INDAH. Ciptaan Tuhan yang harus dikagumi dan disayangi. Tuhan, semoga kau beri jalan..hehehe #kedip

Akibat terobsesi buku tersebut, aku katakan:
" SEMUA BERAWAL DARI 22"

Teriakan Jengah

Kepala terasa penat!


Selama ini aku merasa hanya pikiranku yang bekerja sedangkan perasaan mati suri. Timpang. Benarkah seperti itu? Ini hanya diagnosaku saja. Mungkin aku yang kurang bersyukur, kurang menikmati keadaanku yang sekarang. Namun, syukur tak hanya sekedar kata-kata yang diucapkan berulang seperti jampi. Rasa harus diasah, pertanyaannya bagaimana caranya?
Tekanan demi tekanan menghujam yang sepertinya saya ciptakan sendiri, lelah dengan semua 'suara-suara' itu.
Saya butuh seseorang yang bisa menegur saya, membawa saya keluar seharian dari matahari terbit hingga terbenam. Habiskan waktu dengan segala laku yang akan s'lalu diingat.

Berhentilah merasa kuat!

Sekalipun dunia membencimu, jangan takut dan tetaplah berbuat baik. Demi apapun, berilah aku kekuatan untuk memaknai tiap kata-kata suci itu. Saat aku lemah, aku ingin dikuatkan. Terlalu banyak huruf, kata hingga kalimat mengelilingi. Mereka terlalu lama bergelayutan di pohon pikiran dan tak kunjung kupetik hingga membusuk di tangkainya, menyedihkan. Aku tak butuh kata tapi aku butuh sesuatu yang NYATA. Maafkan aku para Bijakwan dan bijakwati, kata-kata emas kalian seperti angin lalu bagiku (saat ini).

Jadilah !
Bukalah hatimu, temanku pernah berkata. Buka hati? Rasa takut menghardik duluan.
Aku ingin fokus pada satu saja seperti saat tenggelam, yang dipikirkan adalah bagaimana caranya timbul ke permukaan dan menghirup oksigen untuk mengisi paru-paru menjadi motivasi terbesar. Cukup satu-satu. Imbang. Masih membara untuk hidup berkarya kemudian dipersembahkan kepada orang lain. Terima kasih, Tuhan anggota tubuhku lengkap dan berfungsi namun izinkanlah aku 'membutakan' mata, 'menulikan telinga'ku dari segala yang tak perlu, yang dirasa berpeluang menghalangi niatku.

Jadilah padaku sesuai kehendakMu. Aku datang, Tuhan, dengan hati letih, lesu dan berbeban berat. Mohon kemurahan hatiMu, sambutlah aku. Aku bukan apapun tanpaMu.

Desember Datang Lagi

Selalu ceria sekaligus sesak bila Desember datang.

Desember terkait dengan ulang tahunku, Natal juga akhir tahun. Desember selalu buatku berseri-seri. Entah ada kejutan apalagi dibulan ini, ditahun ini. Tahun lalu, Desember jadi awal gerbang kisah petualanganku. Akankah terulang kembali? Siapa yg tahu :)
Pada tanggal 1 Desember ini bertepatan pula dengan hari AIDS sedunia.
Entahlah, bagiku Desember selalu menyimpan pesona tersendiri.

Desember tahun ini usiaku genap 22 tahun, menurut buku The Highest Tide yang dikarang Jim Lynch terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU), tokoh utama yaitu bocah bernama Miles begitu terpesona pada sosok (lupa namanya) seorang wanita yang memulai Lentera Jiwanya pada umur 22 tahun. Sejak membaca kalimat itu, aku memposisikan diri sebagai wanita 22 tahun itu. Aku harus bisa mengikuti lentera jiwaku, kataku dalam hati. Bukan waktu,keadaan, orang lain yang mengatur hidupku tetapi AKUlah pengendali hidupku.
Sesungguhnya tiap kata begitu bermakna apabila kita menghayati dan "menghidupinya".
Ubahlah pola pikir dan sudut pandangmu, Stella dan kau akan mampu mengubah dunia.
Tetap rendah hati karena diatas langit masih ada langit yang dikuasai DIA.
Impianku tak muluk-muluk, semoga petualanganku bertambah, bahagiakan banyak orang.
Orang lain tersenyum maka aku tertawa :D




_postingan pertama di bulan Desember_

Perusahaan TUTI (TUkang TIpu)

Niatnya mau cari kerja buat nambah uang jajan dari seminggu yang lalu sampai bilang ke mama.

Rabu kemarin iseng baca lowongan kerja di koran,
lalu aku menemukan kolom ini

Bisa P/F. Time, Input Dt Ktr
1jt-8jt bsComp word/excel
Sms Nm, Usia 92XX 93XX


*CRRRIIINNGGG*

Cepat sekali Tuhan menjawab doaku, dengan hati gembira dan muka cerah kuketiklah nama dan usia lalu kutekan tombol kirim ke nomor tersebut. Pesan terkirim, hati senang. Kemarin malam hati rasanya tak tenang ingin rasanya malam segera berganti pagi.
Esoknya, nomor tak terdaftar di daftar kontak HP memanggil dengan penuh keyakinan bahwa yang menelpon adalah perusahaan kemarin, kuterima panggilan tersebut. Suara perempuan menyapa dan menyebut namaku. Kemudian si mbak memperkenalkan diri dari perusahaan XXX mengundangku untuk datang besok ke salah satu Tower perusahaan asuransi terkemuka di daerah Sudirman. Saat itu aku dalam bisa yang menuju kampus. Senang rasanya, semua terasa indah dilihat.
Selama UTS tadi sore pikiran sudah tidak fokus, terbayang kerjaanku besok sampai tersenyum sendiri membayangkan gaji untuk diapakan, melamun jauh. Sampai dirumah tadi sebelumnya mampir ke warung untuk membeli kertas folio untuk menulis surat lamaran dan riwayat hidup.
Aku mencari foto juga ditumpukan buku untuk dilampirkan bersama surat lamaran, sebelumnya sempat panik saat CD Foto tak kutemukan tapi setelah mengerahkan naluri detektifku, foto itu ditemukan juga. Sekarang tinggal melampirkan fotokopi KTP, teringat ada didalam kantung uang saat kubentangkan, fotokopi KTP sudah lusuh dan robek. Demi kerja, kukeluarkan sepeda menuju toko fotokopi.
Lengkap sudah berkas-berkas lamaran sekarang tinggal melihat lokasi menara tempat perusahaan tersebut sekalian contoh lamaran di Internet. Ketik kata kunci di mesin pencari Google, tak sengaja kubaca page Facebook perusahaan tersebut yang menuding Penipu. Langsung kuklik link tersebut.

Terpujilah Allah Bapa di Surga, Kemuliaan bagi nama-Nya.

Kubaca diskusi di halaman Facebook tersebut ternyata perusahaan yang akan kudatangi besok adalah perusahaan yang tidak konsekuen dengan apa yang ditulis di koran. Ditulisan lowongan yang kucetak biru diatas menuliskan bahwa posisi yang ditawarkan adalah penginput data (data entry) namun dari diskusi antara mantan-mantan pelamar. Perusahaan tersebut akan mempekerjakan calon pelamar sebagai pencari nasabah untuk menginvestasikan uangnya di perusahaan ini. Untunglah aku sempat mencari info terlebih dulu jika tidak entahlah bagaimana nasibku besok. Terima kasih teknologi, terima kasih Google, terima kasih bagi orang yang membuat halaman Facebook tersebut, terima kasih teman-teman calon pelamar atas cerita pengalamannya terakhir
terima kasih Tuhan, mungkin belom jodohku untuk bekerja namun aku tetap berharap dan berusaha untuk mencari lagi.


NB: Jadi, bagi para calon pelamar yang melihat lowongan kerja di koran, carilah perusahaan yang bonafit dan cek dulu mengenai riwayat perusahaan yang dilamar.

Kesana Kemari Mencari Yang Kucari

Hunting kali ini aku lakukan sendiri, ternyata benar lebih efektif kala kita sendirian (kebetulan aku juga gadis soliter..hihihi)

Kemarin aku memilih lokasi Kalibaru, perkampungan nelayan untuk kujadikan obyek pemotretan. Daerah itu padat penduduk, masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya dengan menjadi buruh pengupas kerang. Tua, muda tumpah ruah, sibuk mengambil daging kerang untuk dikumpulkan dan ditimbang, untuk perkilonya dihargai Rp 3.000. Nelayan tak tentu mengambil kerang ke tengah laut.
Hmmm...
masyarakat pinggir laut yang dinamis.
Aku masih merasa kurang mendapatkan informasi dan aku berjanji untuk datang kembali kesana, orang yang jauh dari Kalibaru saja rela datang kesana hanya untuk mengumpulkan berita sedangkan aku yang dekat malah seperti acuh dengan sekelilingku. Mahasiswa Jurnalistik yang payah, kadang aku menyebut diriku seperti itu.

Hari kedua ini aku melakukan perburuan obyek ke Pasar Baru, tentu anda tahu pelukis jalanan yang mangkal di trotoar, seberang Gedung Kesenian Jakarta. Biasanya aku hanya bisa memandangi sepanjang trotoar ini lewat kaca bus P 125 (Tg. Priok-Blok M) dalam perjalanan kerja. Memang benar ungkapan Samuel Mulia, "semua terjadi seperti apa yang diyakini".
Ungkapan tersebut diperkuat kembali dengan berhasilnya aku menggengam tiket nonton Antigoneo, Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Gedung yang sangat kubanggakan karena aku pernah berdiri unjuk kebolehanku dan teman-teman SD menyanyi disana. Akhirnya setelah hampir 12 tahun tak bersua, Rabu nanti (12/10) jika tak ada aral merintang aku akan menjejakkan kaki kembali di gedung bersejarah itu.

Terima kasih, Tuhan untuk hari ini :) ini semua berkat karunia-Mu

Tak Hanya Melulu Tentang Uang

Hari ini ngamen lagi di Lapo Senayan.

Lumayan ada yang ngasih 100ribu. Nyanyi sampe suara serak, saking mau ngalahin penyanyi Batak yang pakai alat pengeras suara. Awalnya, sepi tidak ada yang memberi tetapi setelah kita menyanyikan lagu-lagu dari Puji Syukur penuh semangat, rupiah perlahan-lahan mulai memenuhi kardus. Ada yang pernah bilang bahwa menyanyi adalah dua kali lipat dari DOA, makdarit kami menyanyi dengan kesungguhan hati tanpa memperhitungkan lagi apakah ada yang memberi atau tidak yang pasti kami "bernyanyi". Termenung, kuberkata dalam hati, "begini ya rasanya jika kita meminta tapi tak ada yang memberi, diacuhkan." Lalu, aku membandingkan saat posisiku menjadi orang yang diminta, begitu melihat pengamen jelas aku ingin ia menyanyikan dengan semangat.
Selama ini aku menemukan para pengamen banyak tipe, ada yang asal nyanyi, menyanyi membelakangi penumpang, suara dibuat berlebihan, padahal menurutku biarpun suaranya datar asal ia menyanyikan dengan penuh sukacita, dengan sendirinya melodi-melodi itu akan menembus dinding manusiawi setiap orang.
Bukannya melulu mengharap imbalan namun apabila segala yang kita kerjakan dengan tuntas dan melampaui dari prosedurnya, niscaya segala yang kita minta itu semua akan ditambahkan.
Mari, bernyanyi dengan sukacita :)

Insiden Warteg Biru (lagi)

Masa iya kejadian yang sama terulang kembali...ckckkck.

Sesak nafas bila kuingat-ingat lagi kejadian kemarin dan setahun silam.
Kenapa harus bersama orang yang hampir (hobi, wajah, tabiat) serupa. Ya Tuhan, inikah yang namanya hukum tarik-menarik. Jika memang menurutmu ini tidak benar mengapa aku harus mengalaminya untuk kedua kalinya kalaupun (mungkin) akhirnya 'kan berujung sama. Kata mereka aku tak mau buka hati dengan 'sesama'. Tunjukkan padaku bagaimana cara untuk mampu melihat 'sesama'. Dengan cara yang hampir sama, aku, dia dan dia (yang lain) seperti memasuki Warteg Biru bersama. Bisa gila bila lama-lama aku memikirkannya, yang ada aku hanya tersenyum geli. Dia yang pertama mencintai ketinggian dan dia yang baru mencintai kedalaman. Dan aku terjebak dalam ketinggian dan kedalaman. Aku sendiri yang menciptakannya.
Katakanlah aku bodoh!
Aneh, hanya itu yang bisa kukatakan.
Yang jelas sahabatku melarang aku untuk tak terjebak lagi dalam kemelut ini. Ia berkata aku harus TEGAS, harus punya PRINSIP, TEGASkan hatimu.

Sudahlah, sayang

Sudahlah, sayang...

relakan, ikhlaskan, meski tak sanggup tapi kau harus tega. Ini demi kebaikanmu sendiri, siapa suruh kau terlanjur sayang padanya?

Saat ini pikiranku buntu, kata-kata positif tak mempan dinalarku. Cinta, hal yang sulit kumengerti. Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya hanya kepahitan yang diterima.
Hari ini aku puas menumpahkan segala gejolak yang dihati akibat mencintaimu kepada temanku. Sakit rasanya mengenang kembali masa-masa indah dulu. Senyum jenaka terhapus mendung air mata. Ternyata, akhirnya pedih. Bisakah kau sedikit saja mengerti perasaanku? Cinta dan sayang tak perlu kau ragukan, ketulusan kudapat. Menjadi kekasihmu adalah suatu hal yang teramat mewah bagiku, bagiku kau sulit kuraih. Yang kubutuhkan hanya kejelasan darimu. Jika cinta katakan cinta jika tidak, katakan dengan lantang kau tak cinta. Tak perlu gentar, kau kan lelaki. Seharusnya dari awal tak perlu kau biarkan kelopak cinta ini merekah, biarkan saja membusuk seperti sediakala.

(sekali lagi ku katakan, nalarku sedang menyangkal optimis)

Kau salah apabila kau pikir aku kuat dan rela menghadapi semua ini, aku masih 'terluka' akan sikap plin-planmu. Kadang aku ingin mengambil belati dan membunuhmu (dalam mimpi).

Terberkatilah, Oktober!

Selamat hari Kebangkitan Nasional :)

Hari ini tidak ingin bercerita tentang sejarah kebangkitan nasional dan sekitarnya, hanya ingin mengucapkan..hehe

Dalam 1 jam kedepan, aku akan mengikuti misa pembukaan bulan Rosario. Awal yang penuh berkat, semoga selama 1 bulan ini, untaian-untaian biji Rosario bersama doa yang didaraskan terselip permohonan untuk negeri tercinta ini.
Entah mengapa hari ini aku menyukai detik-detik penantian Lonceng gereja berdentang. Mungkin karena minggu lalu aku absen dariNya, hehe.
Masa bodoh dengan segala perdebatan mengenai keberadaanNya, yang pasti saat aku gundah, datang kepadaNya, berbincang-bincang adalah hal yang melegakan hatiku. Ia adalah Penyembuh terbaik, tiada duanya.

Intinya Harus Irit

Selalu merasa gak enak hati kalau minta duit sama orang tua.

Sebenarnya kalau muka orang yang bersangkutan sumringah sih kita enak mintanya tapi kalau mukanya ditekuk, agak mikir dua kali mintanya, penuh pertimbangan. Si nyokap lagi pusing mengatur hasil jerih payah bokap (baca: gaji), bagaimana tidak begitu menerima pada saat itu juga nominal berkurang. Menurut pengakuannya, sebagian besar untuk membayar cicilan, arisan, dan sebagainya. Nyokap selalu sukses membuatku merasa serba salah dengan mempertontonkan muka melasnya itu. Maka dari itu, aku ingin merasakan mengatur pengeluaran, memaksimalkan biaya untuk bertahan sampai akhir bulan. Makan irit, hura-hura banyak (ciri-ciri anak kosan)

Tahun Ini Tahun Petualangan (masih berlanjut..semoga)

Eng...ing...enggg............
Perlahan tapi pasti semua angan-anganku terwujud,
Sungguh tahun ini adalah tahun petualanganku. Tahun ini tahun kelinci menurut tradisi masyarakat Tionghoa. Aku adalah penggemar fanatik hewan bertelinga panjang itu, menarik kesimpulan bahwa tahun ini adalah tahun keberuntunganku....hahhahhaaa......

Awal Januari diberikan liburan sebulan gratis oleh pak Tua ke Makassar. Pantai Losari, Taman Nasional Bantimurung, Benteng Fort Rotterdam, Makam Sultan Hasanuddin, Wahana permainan mirip dufan (dunia fantasi) namun dalam ruangan, Trans Studio, Taman Bunga Malino, Pantai Bira (Bulukumba). Ada Bendungan di Makassar yang sangat menarik perhatianku namanya Bendungan Bili-Bili, menarik karena ucapan sepupuku, "Jika orang Jawa takut gunung Merapi meletus maka kami (orang Makassar) takut jika Bili-Bili jebol. Seluruh Makassar akan tenggelam." Bendungan ini terletak di dataran tinggi. Tempat wisata yang selama ini hanya dapat kulihat di majalah atau televisi, sudah kusambangi.

Akhir Februari, aku dan ketiga teman SMAku menjejakkan kaki di kota Gudeg. Sebenarnya ini kunjunganku yang kedua kalinya ke Jogjakarta. Kami berempat mengunjungi Malioboro (tentunya), Keraton, Alun-alun, Taman Sari, pantai Parangtritis. Kami juga dua kali mencicipi menu yang disajikan di House Of Raminten di Kotabaru. Tempat makan yang asik, dari segi interior, ada musik pengiring dan keunikan para pelayannya, harga pun terjangkau.

Tanggal 8 sampai 10 April, aku berhasil berdiri di puncak Gunung Gede (2.958 m.dpl),
berkemah di Surya Kencana yang cantik beserta Edelweisnya yang merekah saat kami datang. Sungguh terharu jika memikirkannya, kesabaran dan anganku yang terus membara membayangkan kapan aku bisa merasakan, berada di semua tempat yang ingin kusambangi. Puji Tuhan Alleluya!

Lalu, hari ini rahmatNya melimpahiku lagi. Hari ini aku mencoba panjat di GOR Bulungan. Wawwwwwwwwwww........... selain ini karena anugerahNya, mau tak mau pun aku harus menyetujui kata-kata Rhonda Byrne dalam bukunya, The Secret mengenai Hukum tarik-menarik (Law of Attraction) di mana angan yang terus-menerus kita pikir dan ucapkan akan menjadi kenyataan.

Masih banyak rencana pelanconganku sampai Juli nanti yaitu mendaki Mahameru, jadi orang paling tinggi di pulau Jawa...hahaha. Saya tidak sabar menantinya.
Terima kasih Tuhan atas berkatMu ini.

Mungkin Tanda Tanya


"Andai aku memiliki Keberanian untuk mengungkapkan"


Kurang bersyukurkah aku ?

Sampai saat inipun bingung, bagaimana bersyukur yang benar itu. Ahhhh, semua penuh tanda tanya, buat otakku sakit. Aku merasa selalu tertinggal dari orang lain. Terkutuklah aku ayah, ibu karena masalah ke'lamban'anku ini berasal dari kalian. Huuu..huuu... dalam diam aku telah durhaka terhadap kalian. Enyahkan tulisan Rhonda Byrne didalam The Secret yang selalu mendengungkan Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik di mana impian seseorang akan terwujud apabila ia memikirkan angannya secara simultan dan menyampaikannya pada orang-orang disekitar. Aku (saat ini) memilih bungkam.


Seorang Pendramatisirkah aku ?

Aku kecanduan buku, otakku bergetar hebat apabila sehari saja tidak meraba tubuhnya. Kata per kata membentuk kalimat kemudian paragraf menggairahkan jiwaku. Dari semua sumber selalu berpendapat tetang Buku, beraneka ragam pandangan semuanya benar dan juga (bisa) dibenarkan. Intinya sama. Kini, itu semua rasanya ingin kucampakkan saja, tak menarik lagi.
Semua menolak apabila ada yang ingin mengajaknya ke Psikiater, Ahli Kejiwaan dan profesi sejenisnya. Psikiater dikaitkan dengan Gila, Sarap, Sinting dan mereka tidak mau mendapat 'gelar keramat' tersebut. Sering mengeluh, pikiran kadang kosong, tak tahu harus berbuat apa mungkin (mungkin ya, mungkin) mirip gejalanya dengan si terdahulu. Mengapa harus menyangkal, pasien sakit jiwapun menyangkal dirinya disebut Gila.

Lalu, untuk apa semua ini ?

"Menghadapi hidup yang penuh tanda tanya."
"Nobody knows the trouble i've seen, nobody knows my sorrow."
Mungkin tulisan ini berbau Pesimis, terkuaklah jati diri penulisnya. Sahabatku yang bernama Optimis, tolong jangan jauhi kami ! Kami sangat mendambakan cipratan jiwa semangat anda.





Sebelum Aku Lelap


Masih memandangi layar komputer jinjing, pancaran sinarnya membuatku mataku sakit.
Terlalu lama, harus diakhiri saat ini juga. Lagipula kedua jendela jiwa ini sudah terseok-seok.
Sebelum aku tidur, hanya ingin membuat catatan sederhana, bukti bahwa aku masih ada pada hari Senin ini tanggal 28 Februari 2011 pada jam,menit dan detik yang bisa dilihat hingga postingan ini kubuat.
Sebelumnya aku minta maaf untuk diriku sendiri bahwasanya baru hari ini aku bisa menepati janji untuk membuat catatan ini. Terlalu lama menunda, pun mata ini juga berunjuk rasa karena aku tak urung jua lelap. Baiklah, kupersingkat catatan ini.
Kepada DIA, yang (masih) kusayangi aku hanya ingin berkata bahwa aku ingin kau bertandang ke mimpiku malam ini. Sungguh aku rindu padamu, Arjuna.
Kepada Ayah dan Ibu, terima kasih untuk hari ini. Kalian orang tua tiada taranya.
Untuk Adik-adikku yang nakal, tawa dan senyummu cerahkan hariku.
Terakhir, untuk Bapa di Surga Puji dan Syukur kupanjatkan ke hadiratMu atas hari ini dan penyelenggaraanmu.
Nyanyian alam semesta mengiringiku kembali ke peraduan.
Masih kudengar meski samar, "Bagaimana nasib anak ini besok?".

Sebelum aku lelap, aku seperti mengenal suara indah nan agung itu.

powered by Blogger WordPress by X file